Minggu, 02 Oktober 2011
CINTA DALAM ISLAM
Kata pujangga cinta letaknya di
hati. Meskipun tersembunyi,
namun getarannya dahsyat
sekali. Ia mampu mempengaruhi
pikiran sekaligus mengendalikan
tindakan.
Sungguh, Cinta dapat mengubah
pahit menjadi manis, debu
beralih emas, keruh menjadi
bening, sakit menjadi sembuh,
penjara menjadi telaga, derita
menjadi nikmat, dan kemarahan
menjadi rahmat. Cintalah yang
mampu melunakkan besi,
menghancurkan batu karang,
membangkitkan yang mati dan
meniupkan kehidupan padanya
serta membuat budak menjadi
pemimpin. Inilah dasyatnya cinta
(Jalaluddin Rumi). Namun hati-
hati juga dengan cinta, karena
cinta juga dapat membuat orang
sehat menjadi sakit, orang gemuk
menjadi kurus, orang normal
menjadi gila, orang kaya menjadi
miskin, raja menjadi budak, jika
cintanya itu disambut oleh para
pecinta palsu. Cinta yang tidak
dilandasi kepada Allah Itulah para pecinta dunia, harta
dan wanita. Dia lupa akan cinta
Allah, cinta yang begitu agung,
cinta yang murni. Cinta Allah
cinta yang tak bertepi. Jikalau
sudah mendapatkan cinta-Nya,
dan manisnya bercinta dengan
Allah, tak ada lagi keluhan, tak
ada lagi tubuh lesu, tak ada
tatapan kuyu. Yang ada adalah
tatapan optimis menghadapi
segala cobaan, dan rintangan
dalam hidup ini. Tubuh yang kuat
dalam beribadah dan melangkah
menggapai cita-cita tertinggi yakni
syahid di jalan-Nya.
Tak jarang orang mengaku
mencintai Allah, dan sering orang
mengatakan mencitai Rasulullah,
tapi bagaimana mungkin semua
itu diterima Allah tanpa ada bukti
yang diberikan, sebagaimana
seorang arjuna yang
mengembara, menyebarangi
lautan yang luas, dan mendaki
puncak gunung yang tinggi demi
mendapatkan cinta seorang
wanita. Bagaimana mungkin
menggapai cinta Allah, tapi
dalam pikirannya selalu
dibayang-bayangi oleh wanita/
pria yang dicintai. Tak mungkin
dalam satu hati dipenuhi oleh
dua cinta. Salah satunya pasti
menolak, kecuali cinta yang
dilandasi oleh cinta pada-Nya.
Di saat Allah menguji cintanya,
dengan memisahkanya dari apa
yang membuat dia lalai dalam
mengingat Allah, sering orang tak
bisa menerimanya. Di saat Allah
memisahkan seorang gadis dari
calon suaminya, tak jarang gadis
itu langsung lemah dan terbaring
sakit. Di saat seorang suami yang
istrinya dipanggil menghadap
Ilahi, sang suami pun tak punya
gairah dalam hidup. Di saat harta
yang dimiliki hangus terbakar,
banyak orang yang hijrah
kerumah sakit jiwa, semua ini
adalah bentuk ujian dari Allah,
karena Allah ingin melihat
seberapa dalam cinta hamba-Nya
pada-Nya. Allah menginginkan
bukti, namun sering orang pun
tak berdaya membuktikannya,
justru sering berguguran cintanya
pada Allah, disaat Allah menarik
secuil nikmat yang dicurahkan-
Nya.
Bagaimana mungkin do’a
seorang hamba yang
mendambakan rumah tangga
sakinah, sedang dirinya masih
diliputi oleh keegoisan sebagai
pemimpin rumah
tangga..Bagaimana mungkin
seorang ibu mendambakan anak-
anak yang sholeh, sementara
dirinya disibukkan bekerja di luar
rumah sehingga pendidikan anak
terabaikan, dan kasih sayang tak
dicurahkan.
Bagaimana mungkin keinginan
akan bangsa yang bermartabat
dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi
contoh teladan. Banyak orang
mengaku cinta pada Allah dan
Allah hendak menguji cintanya
itu. Namun sering orang gagal
membuktikan cintanya pada sang
Khaliq, karena disebabkan secuil
musibah yang ditimpakan
padanya. Yakinlah wahai
saudaraku kesenangan dan
kesusahan adalah bentuk kasih
sayang dan cinta Allah kepada
hambanya yang beriman…
Dengan kesusahan, Allah hendak
memberikan tarbiyah terhadap
ruhiyah kita, agar kita sadar
bahwa kita sebagai makhluk
adalah bersifat lemah, kita tidak
bisa berbuat apa-apa kecuali atas
izin-Nya.
Saat ini tinggal bagi kita
membuktikan, dan berjuang
keras untuk memperlihatkan
cinta kita pada Allah, agar kita
terhindar dari cinta palsu.
Dan Allah tidak akan menyia-
nyiakan hambanya yang betul-
betul berkorban untuk Allah
Untuk membuktikan cinta kita
pada Allah, ada beberapa hal
yang perlu kita persiapkan yaitu:
1) Iman yang kuat
2) Ikhlas dalam beramal
3) Mempersiapkan kebaikan
Internal dan eksternal.
Kebaikan internal yaitu berupaya
keras untuk melaksanakan
ibadah wajib dan sunah. Seperti
qiyamulail, shaum sunnah,
bacaan Al-qur’an dan haus akan
ilmu. Sedangkan kebaikan
eksternal adalah buah dari
ibadah yang kita lakukan pada
Allah,dengan keistiqamahan
mengaplikasikannya dalam setiap
langkah, dan tarikan nafas
disepanjang hidup ini. Dengan
demikian InsyaAllah kita akan
menggapai cinta dan keridhaan-
Nya. Amien..
"Jika mencintai dunia niscaya kita
akan binasa, Jika mencintai Allah
niscaya dunia akan melayani
kita" (Aa Gym)
[3:14] Dijadikan indah pada
(pandangan) manusia kecintaan
kepada apa-apa yang diingini,
yaitu: wanita-wanita, anak-anak,
harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternakl86 dan
sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia, dan di sisi Allah-
lah tempat kembali yang baik
(surga).
Sumber: http://
www.facebook.com/group.php?
gid=99887188733
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Sop Tulang
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ini adalah resep Sop Tulang yang enak banget, rasanya segerr dan jadi menu favorite dirumah....
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim Pada kesempatan kali ini kita akan membahas Hukum Tajwid Iqlab Iqlab Secara bahasa artinya merubah ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar