Bismillah...tulisan ini saya dapat dari kak Eka Wardhana S.psi, seorang penulis lebih dari 490 judul buku. menurut saya materi ini sangat penting sekali terutama bagi para orang tua khususnya saya yang masih terus belajar sampai sekarang. Karena itu saya tulis disini semoga banyak orang tua lainnya terinspirasi dan menjadi amal jariah bagi semuanya, aamiin
BAGAIMANA MEMBENTUK KARAKTER ANAK MELALUI KISAH NABI MUHAMMAD
SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM
SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM
Oleh: Kak Eka Wardhana, RUMAH PENSIL PUBLISHER
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh...
Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, keluarga, sahabatnya, serta umatnya sampai akhir zaman.
Ayah dan Bunda yang terhormat, selamat berjumpa bersama saya dari Rumah Pensil Publisher. Tema yang kita bahas kali ini, adalah hal yang sangat, sangat, sangaaat penting, Ayah dan Bunda. Bagi saya, keberhasilan orangtua muslim mendidik anaknya tidak cukup dilihat dari pencapaian prestasi akademisnya saja di sekolah. Keberhasilan kita, para orangtua muslim, mendidik anak justru terlihat dari seberapa banyak pribadi Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tercermin dalam karakter mereka.
Untuk hal sepenting ini, semoga kita yang telah meluangkan waktu untuk sharing ilmu di sini diberkahi pahala dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sudah siap? Yuk, kita mulai.😊
Bismillah...
APA ITU KARAKTER?
Menurut Kamus Psikologi, Karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya dikaitkan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982).
Dengan kata lain, Ayah dan Bunda, karakter adalah sifat-sifat moral entah itu baik atau buruk, yang memang sudah melekat dalam pribadi seseorang. Bila karakter berasal dari bahasa Inggris, padanan kata paling dekat dalam bahasa Indonesia adalah “Watak”. Dalam terminologi Islam, kata paling dikenal yang mendekati karakter adalah “Akhlaq”.
Akhlaq didefinisikan sebagai reaksi spontan seseorang saat mengalami sesuatu. Contohnya bila kendaraan kita diserempet tak sengaja di jalan, apa reaksi spontan kita? Marah dan mencaci maki? Atau tenang dan bersabar? Itulah akhlaq kita.
Jadi bagaimana caranya kita melaksanakan pekerjaan besar ini? Kesannya berat dan susah ya?
Tenang, menurut saya ada satu cara mudah (tapi pelaksanaannya tergantung semangat kita), yaitu dengan memanfaatkan cerita dan buku. Masak sih bisa dengan dua hal sederhana itu? Beneran, Ayah dan Bunda.
Jadi cerita seperti apa? Buku seperti apa? Dan bagaimana cara praktisnya? Penasaran kan? Yuk, kita lanjuuut...
BAHAYA BILA TIDAK MENGENAL RASUL
Oke, Ayah dan Bunda, bila ditanya: cerita seperti apa yang paling tepat untuk membentuk karakter anak sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah? Tentu jawabannya adalah cerita yang di dalamnya paling banyak menggambarkan tentang diri Rasulullah sendiri.
Mengapa demikian? Sebab karakter yang diajarkan Rasulullah terlihat jelas dalam diri Beliau. Bukankah Bunda Aisyah, orang yang paling dekat dengan Rasul, menyampaikan bahwa diri Rasulullah adalah Al-Qur’an Berjalan?
Jadi cerita yang paling tepat adalah cerita tentang kisah kehidupan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sendiri. Juga kisah tentang orang-orang yang setia mengikutinya: keluarga, sahabat-sahabat dan para pengikutnya.
Bagaimana bila tidak?
Ayah dan Bunda, kita di Indonesia punya istilah sederhana tapi berlaku di seluruh dunia dan sepanjang waktu: Tak kenal maka tak sayang.
Bila sedari dini anak tidak kenal dengan Rasulnya, maka sulit mengharapkan cinta untuk Rasul dari dalam dirinya. Jangan kan cinta, bahkan rasa sayang pun tidak. Di sinilah, Ayah dan Bunda, letak bahaya bila orang tidak mengenal Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Kalau Anda bertanya heran, “Mengapa ada orang yang bekerja dengan memberangkatkan orang ke tanah suci sampai tega menipu milyaran rupiah uang jamaahnya sendiri?” Nah, Ayah dan Bunda, bagi saya inilah jawabannya: mereka tidak pernah mencintai Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Kalau Anda bertanya heran, “Mengapa ada orang yang mau-maunya menjadi pengikut Nabi palsu padahal dia pernah tahu bahwa Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah rasul terakhir?” Jawabannya sama: mereka tidak pernah mencintai Rasulnya sendiri.
Jadi sangat jelas, Ayah dan Bunda, bahaya tidak mencintai Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah penyimpangan aqidah.
Lalu, mengapa orang bisa tidak mencintai Rasul padahal sejak kecil mereka diajarkan agama di sekolah? Jawabannya adalah: karena yang diajarkan waktu kecil itu adalah TAHU tentang Rasul, bukan CINTA Rasul.
Coba ingat-ingat, Ayah dan Bunda, sewaktu SD dulu yang ditanya saat ujian adalah “Tahun berapa Nabi Muhammad dilahirkan? Siapa nama ayah Nabi Muhammad? Siapa nama kakeknya?” dan semisalnya. Tidak pernah kita ditanya, “Apa yang kamu rasakan ketika orang kafir mengejek Nabi Muhammad? Seandainya kamu bertemu Nabi Muhammad, apa yang akan kamu sampaikan pada beliau? Cobalah tulis surat penuh sayang pada Nabi Muhammad?”
Padahal, Ayah dan Bunda, dalam Hadis Riwayat Ath-Thabrani, Rasulullah pernah berpesan, “Didiklah anak-anakmu tiga perkara: cinta kepada Al-Qur’an, cinta kepada Nabi mereka dan cinta kepada sanak keluarga Nabinya.”
Perhatikan, apa yang Rasul pesankan itu: AJARKAN CINTA, bukan sekadar tahu.
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu, adalah seorang sahabat Nabi yang kelak menaklukkan Persia. Sa’ad pernah mengatakan, “Kami mengajar anak-anak kami sejarah hidup Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seperti kami mengajarkan kepada mereka surah dari Al-Qur’an.”
Nah, Ayah dan Bunda, mudah-mudahan kita sudah yakin sekarang, betapa pentingnya mengajarkan kisah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alahihi Wassalam pada anak-anak sejak kecil dan betapa berbahayanya hal itu bila terlewatkan...
MENGAPA KISAH?
Ayah dan Bunda tentu bertanya: mengapa kisah?
Setidaknya ada 6 jawaban yang pantas untuk disimak, yaitu:
1. Kisah adalah Sebagian Tentara Allah yang Diturunkan ke Bumi
Ayah dan Bunda tentu sudah tahu jawabannya bila ditanya: siapa sebenarnya musuh abadi dan terbesar manusia?
Yak, benar! Jawabannya adalah Iblis dan setan laknatullah alaih!
Kita tahu benar bahwa melawan setan sendirian sangatlah tidak mungkin, sebab setan adalah musuh yang amat kuat, gigih, keras kepala dan sulit terdeteksi. Jadi, untuk melawan setan, kita memerlukan bantuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Untung bagi kita bahwa Allah sendiri menurunkan bala tentara-Nya untuk menolong manusia menghancurkan setan. Namun sayang, hanya sebagian kecil dari kita yang memanfaatkan bahkan menyadarinya.
Ayah dan Bunda, seorang ustadz yang pernah saya temui berkata bahwa sebagian tentara Allah yang diturunkan ke bumi adalah kisah-kisah islami.
Bila dihubungkan dengan pendidikan anak, membeli buku-buku islami seperti mendatangkan pasukan pelindung bagi anak-anak kita. Membacakan mereka kisah-kisah islami berarti memasukkan tentara pelindung ke dalam qolbu, tempat berlangsungnya pertempuran sengit melawan balatentara setan.
Luar biasa pentingnya, bukan, Ayah dan Bunda? Sayang sekali berkisah saat ini sudah banyak dilupakan para orangtua muslim.
2. Kisah Sangat Efektif dalam Menyampaikan Informasi
Ayah dan Bunda, menurut saya ada satu hal penting yang banyak dilupakan para pengajar saat menyampaikan materi buat murid-muridnya: alur cerita. Mengapa penting? Sebab alur cerita akan membuat pelajaran lebih mudah dipahami dan dicerna.
Sebagai contoh, seorang pengajar ingin menyampaikan 10 informasi ini:
1. Laba-laba memiliki 8 kaki.
2. Laba-laba berjalan dengan cara merayap.
3. Laba-laba hidup di atas pohon
4. Sarang laba-laba berbentuk jaring melingkar.
5. Laba-laba termasuk hewan yang membuat sarangnya sendiri.
6. Sarang laba-laba mengandung perekat untuk menangkap mangsanya.
7. Lalat adalah salah satu makanan laba-laba.
8. Laba-laba mampu mengenal bagian-bagian jaring yang tidak mengandung perekat sehingga ia tidak melekat di jaringnya sendiri.
9. Doa makan itu berbunyi, “Allahumma baariklana fiima rozaqtana waqinaa azaa bannaar.”
10. Saat mendekati kematian hendaklah seorang mengucap 2 kalimat syahadat, “Asyhadu alaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu anaa Muhammad rasuulullaah.”
2. Laba-laba berjalan dengan cara merayap.
3. Laba-laba hidup di atas pohon
4. Sarang laba-laba berbentuk jaring melingkar.
5. Laba-laba termasuk hewan yang membuat sarangnya sendiri.
6. Sarang laba-laba mengandung perekat untuk menangkap mangsanya.
7. Lalat adalah salah satu makanan laba-laba.
8. Laba-laba mampu mengenal bagian-bagian jaring yang tidak mengandung perekat sehingga ia tidak melekat di jaringnya sendiri.
9. Doa makan itu berbunyi, “Allahumma baariklana fiima rozaqtana waqinaa azaa bannaar.”
10. Saat mendekati kematian hendaklah seorang mengucap 2 kalimat syahadat, “Asyhadu alaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu anaa Muhammad rasuulullaah.”
Nah, menurut Ayah dan Bunda, seberapa cepat anak usia 7 tahun bisa mencerna 10 informasi di atas? Tentu tergantung kemampuan masing-masing, tapi hampir bisa dipastikan jarang sekali anak yang mampu menangkap (apalagi menghapal) 10 informasi itu dalam waktu singkat.
“Lalat!” seru Labi penuh harap.
Harapan Labi terkabul... BLEP! Lalat yang tidak melihat jaring tipis Labi, terjerat dan tak bisa melepaskan diri karena perekat yang sangat kuat.
“TOLOOONG!” seru Lalat.
Labi pun mendekat dan membaca doa makan, “Allahumma baariklana fiima rozaqtana waqinaa azaa bannaar.”
Lalat sudah tahu bahwa ajalnya tiba, maka ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat, agar wafat dalam keadaan muslim, “Asyhadu alaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu anaa Muhammad rasuulullaah.”
Lalu... Hap! Labi menerkam sang lalat....
Ayah dan Bunda, menurut Anda mana cara menyampaikan pelajaran yang lebih menarik dari kedua contoh di atas? Bila jawabannya cara yang kedua, berarti Anda telah mengerti betapa efektifnya kemasan cerita dalam melunakkan informasi sehingga lebih mudah dimengerti dan dihapalkan anak.
Bercerita lebih menyenangkan. Bukankah belajar dalam suasana yang menyenangkan lebih efektif hasilnya?
3. Kisah Dapat Mengubah Nasib Suatu Bangsa
Saat pertama kali mendengarnya saya melompat dari tempat duduk dan berteriak, “Apa? Kisah dapat mengubah nasib suatu bangsa? Serius?”
Ternyata beneran serius, Ayah dan Bunda. Kesimpulan ini didapat dari penelitian yang dilakukan oleh David McClelland, seorang psikolog. Pak McClelland melakukan penelitian psikologi-sejarah tentang dua bangsa besar yang berabad lalu pernah bersaing memperebutkan wilayah jajahan di seluruh dunia: Spanyol versus Inggris.
Setelah melewati beberapa kali peperangan yang menentukan, akhirnya Inggris berhasil mengalahkan Spanyol sekaligus mengukuhkan diri sebagai penjajah terbesar di dunia masa lalu.
Sebagai psikolog, Pak McClelland tentu tidak meneliti dari sudut pandang militer dan politik, melainkan dari sudut pandang psikologis. Singkat kata, McClelland menemukan suatu fakta menarik yang sangat mungkin menentukan kemenangan Inggris atas Spanyol. Di Inggris saat itu sudah terbentuk kebiasaan bahwa setiap malam, para orangtua (terutama ibu) menceritakan kisah-kisah yang isinya mengubah nasib sang tokoh dari bukan siapa-siapa menjadi orang yang akhirnya meraih kegemilangan. Sementara di Spanyol, tidak didapati kebiasaan itu.
Nah, Ayah dan Bunda, kesimpulannya: generasi sebuah bangsa yang secara masif diberikan dongeng motivasi yang menggugah semangat, ternyata mampu mengalahkan generasi dari bangsa lain yang lebih kaya dan lebih kuat. Bagi saya ini adalah salah satu penemuan penting yang tidak kalah dahsyatnya dengan penemuan pesawat terbang dan handphone. Tapi sayang, banyak orang, terutama kita di Indonesia, tidak menyadarinya sama sekali.
Jadi, kalau nasib sebuah bangsa bisa berubah oleh kebiasaan mendongeng, apakah nasib seorang anak juga bisa berubah bila orangtuanya terbiasa membacakan cerita? Tentu saja, Ayah dan Bunda! Tentu saja!
Nah, setelah mendapatkan kenyataan ini, masihkah kita malas bercerita, mendongeng dan berkisah?
4. Ada Hubungan Hangat antara: Pencerita-Tokoh Cerita-Pendengar
Ayah dan Bunda, saat bercerita, diam-diam terjadi hubungan segitiga antara Anda yang bercerita, tokoh yang tengah dikisahkan dan anak Anda yang asyik mendengarkan. Bila yang dikisahkan tokoh yang baik hati dan penuh sayang, segitiganya menjadi segitiga cinta. Bila yang sedang diceritakan adalah jelangkung atau kuntilanak, segitiganya menjadi segitiga horor!
Seberapa besar pengaruh segitiga ini pada diri anak? Besar sekali, Ayah dan Bunda. Lihat saja, anak yang sering diceritakan kisah-kisah seram, biasanya takut ke kamar mandi sendiri di malam hari. Sebaliknya, bayangkan bila yang diceritakan adalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, jangan heran bila dalam hati anak-anak akan tumbuh sosok Rasulullah sebagai seorang idola. Bukannya artis seronok dan suka pamer materi di instagram, atau atlet berprestasi tapi sangat hedonis, melainkan Nabi Muhammad! Nabi Muhammad sebagai idola, gitu loh, Ayah dan Bunda! Benar-benar sangat luar biasa, bukan?
Ingat, apa yang tertanam di waktu kecil, akan berbuah di masa dewasa. Bila di waktu kecil ditanamkan rasa takut pada hantu, ia akan tumbuh jadi orang penakut sampai tuanya. Sedangkan bila yang ditanamkan adalah rasa cinta kepada Nabinya di waktu kecil, anak-anak akan tumbuh menjadi pemuda shalih dan pemudi shalihah yang gemar berbuat baik dan berguna buat orang lain.
Nah, Ayah dan Bunda. Masih meremehkan kedahsyatan budaya bercerita?
5. Kisah Menambahkan Dua Hal yang Saling Berkait: Kehangatan dan Kecerdasan
Saat hati yang hangat bertemu dengan kecerdasan, hasilnya adalah ramuan kesuksesan. Guru yang pandai dan baik hati adalah idola bagi murid-muridnya.
Orangtua yang penyayang dan cerdas adalah orangtua yang amat dicintai anak-anaknya. Demikian pula yang terjadi pada seorang bos, presiden, menteri, suami, dan seterusnya.
Tapi sayang, kelihatannya tidak banyak orang yang seideal itu. Iya kan, Ayah dan Bunda? Ternyata kita baru sadar bahwa kehangatan dan kecerdasan sulit menyatu dalam waktu lama. Bila keduanya bisa menyatu dalam waktu lama, barulah bisa kita namakan ia karakter.
Nah, momen mendongeng dan bercerita adalah saat ketika kedua hal itu bisa bertemu. Rasa hangat dirasakan orangtua saat senyum anak merekah mendengar cerita. Rasa hangat dirasakan anak saat mendengar untaian kata keluar dari mulut orangtua berupa kisah-kisah indah yang menyentuh emosi.
Kecerdasan akan tumbuh dengan sendirinya dari hati yang selalu merasa hangat. Selain itu kisah-kisah yang dibacakan juga menyampaikan kecerdasan dengan caranya sendiri, berupa penyampaian tentang perjuangan sang tokoh cerita dalam mengatasi rintangan. Ada tokoh yang mengandalkan sikap jujur atau keberanian atau rasa pemaaf dan lainnya. Itu adalah bentuk-bentuk kecerdasan, Ayah dan Bunda. Ingatlah, kecerdasan itu banyak sekali bentuknya.
Semakin sering kita bercerita, semakin sering pula kehangatan dan kecerdasan bertemu, sehingga semakin besar pula kemungkinan perpaduan keduanya menetap dalam diri anak dan menjadi karakter. Bila ramuan sukses itu sudah menetap dalam diri anak, jadi apapun mereka kelak di masa depan, tak perlu lagi kita merasa khawatir. Insyaa Allah....
Jadi, kita memang tidak bisa meremehkan teknik berkisah dalam pendidikan anak, bukan?
6. Sebagian Besar Isi Al-Qur’an pun Berbentuk Kisah
Ini yang luar biasa, Ayah dan Bunda: ternyata lebih dari separo isi Al-Qur’an disampaikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam bentuk kisah dan cerita!
Lho, bila Yang Mahakuasa dan Mahatahu Segalanya saja sudah memakai bentuk kisah dalam Kitab Suci-Nya, sudah tidak perlu panjang lebar lagi menjelaskan betapa dahsyatnya metode berkisah ini. Iya kan, Ayah dan Bunda?
BAGAIMANA SEBUAH KISAH BISA MENGUBAH KARAKTER?
Baiklah, Ayah dan Bunda, semoga sampai di sini kita semua sudah paham mengapa kita perlu menggunakan kisah sebagai metode pendidikan karakter.
Sekarang pertanyaannya: Bagaimana caranya kisah dapat mengubah karakter?
Jawabannya adalah Gunung Es.
Lho, apa maksudnya ini?
Sebelum dijelaskan, jawab dulu pertanyaan ini ya, hehe: bagian mana yang lebih besar dari sebuah gunung es, yang di atas permukaan laut atau yang di bawah permukaan laut?
Bila bingung, masukkan saja sebongkah es batu ke dalam sebuah gelas bening berisi air bening. Perhatikan mana yang lebih besar: yang ada di atas permukaan air atau yang di bawah?
Tentu saja yang ada di bawah permukaan air. Nah, demikian pula dengan kesadaran manusia. Manusia itu punya 2 macam jenis kesadaran: alam atas sadar dan alam bawah sadar. Bila dibandingkan, persis seperti gunung es atau es batu tadi: ternyata alam bawah sadar jauh lebih besar dari alam sadar.
Semua kejadian yang dialami manusia pertama-tama berada di alam sadar. Tetapi setelah hal itu berlalu dan fokusnya berganti ke hal yang baru, peristiwa yang pertama itu masuk ke alam bawah sadarnya. Demikian terus-menerus terjadi setiap saat. Apakah yang memasuki alam bawah sadar itu hilang? Tidak, ia hanya tersembunyi. Suatu waktu ia bisa kembali ke alam sadar seperti paus yang muncul dari bawah laut. Semakin berkesan suatu peristiwa, semakin mudah ia muncul ke permukaan. Saat sebuah ingatan dari alam bawah sadar sering muncul, ia akan mempengaruhi karakter seseorang. Kira-kira begitu mekanismenya, Ayah dan Bunda.
Nah, cerita-cerita yang didengar seorang anak pertama-tama tentu akan diterima oleh alam sadarnya dulu. Namun dengan cepat hal itu akan berlalu dan berganti masuk ke alam bawah sadar. Semakin menyentuh emosi sebuah kisah (bisa jadi sangat indah, sangat menakutkan, sangat lucu dan lainnya), semakin mudah ia muncul ke permukaan. Semakin sering sebuah nilai dalam sebuah cerita didengarkan (misalnya: kejujuran, keberanian, dll) semakin mudah pula ia muncul ke permukaan. Semakin kuat pula nilai itu akan memperkokoh karakter.
Jadi kesimpulannya: semakin sering sebuah kisah diperdengarkan kepada anak, semakin kuat pula nilai-nilai dalam kisah ini kelak akan memperkuat karakternya. Semakin berkesan sebuah kisah, semakin besar pula kekuatannya untuk muncul kembali dari alam bawah sadar. Maka itu berhati-hatilah dalam berkisah, Ayah dan Bunda. Usahakan agar sebanyak mungkin nilai-nilai baik yang didengarkan dan jauhkan sebisanya nilai-nilai buruk.
Seperti kenyataan yang didapat dari penelitian David McClelland di atas: semakin sering anak-anak Inggris mendengar kisah bahwa nasib bisa berubah bila mereka berjuang, semakin kuat pula karakter juang mereka untuk mengubah nasib.
Begituh kira-kira, Ayah dan Bunda.
CARA MEMILIH BACAAN
Setelah kita menyadari pentingnya sebuah kisah, kini kita melangkah pertanyaan berikutnya: bagaimana cara memilih buku atau bacaan yang baik?
Pertama, Pilih Buku Sesuai Usia Anak
Tentu saja anak usia balita akan berbeda pilihan bukunya dengan anak-anak yang sudah duduk di bangku SD. Sama halnya hampir tak mungkin anak berusia SD tertarik pada buku-buku bacaan sederhana khas balita. Kenapa? Tentu saja karena cara berpikir (kognisi) mereka berbeda.
Untuk anak-anak balita, pilih buku bacaan dengan sedikit tulisan tapi penuh gambar (Wordless Picture Book).
Kedua, Hindarkan Buku yang Memuat Kisah-kisah Perusak Aqidah
Yang saya maksud dengan perusak aqidah adalah buku-buku yang berhubungan dengan sihir, hantu, dewa-dewi dan hal-hal semacamnya. Sayangnya, kisah-kisah seperti ini memang mempunyai daya tarik yang sangat kuat. Karena itu pendampingan pada anak amat perlu diberikan. Tanpa memaksa, beri pengertian pada anak kenapa suatu buku yang walaupun menarik, tetapi tidak layak dipilih karena faktor kerusakan aqidah yang bisa ditimbulkannya.
Termasuk kisah-kisah tradisional yang tidak mendidik. Misalnya tentang seorang anak yang mencintai ibunya sendiri dan hal semacam itu. Biarlah, kelak bila ia sudah dewasa, anak tahu sendiri kisah-kisah tradisional. Tetapi masa emasnya di waktu kecil akan cepat berlalu, jadi Ayah dan Bunda fokus kepada buku-buku yang mengandung contoh akhlaq mulia.
Meski demikian, hindari buku-buku yang terkesan menggurui. Selain membosankan, buku-buku yang menggurui cenderung membuat anak kehilangan semangat kebebasan dan berkreasinya.
Ketiga, Pilih Buku tentang Kehidupan para Nabi dan Sahabat
Seperti yang sudah kita bahas, penting sekali mengenalkan kehidupan para Nabi dan Sahabat sejak dini. Sayangnya, buku-buku seperti ini sangat terbatas jumlahnya. Itu pun kebanyakan dihadirkan tanpa kemasan yang menarik. Meski demikian seharusnya tidak menghalangi kita untuk menghadirkan versi terbaik buku-buku itu sebisa kita. Ingat, tujuan kita besar dan mulia. Tak mungkin hal itu dicapai tanpa perjuangan.
Mengajarkan kehidupan para Nabi sama dengan mengajarkan isi Al-Qur’an pada anak. Jadi buku jenis ini memang luar biasa. Sayang sekali banyak kita yang tidak mau bersusah payah memilikinya. Coba cek di rumah kita, rumah saudara kita, atau rumah teman kita. Berapa banyak di antara mereka yang telah memiliki dan membacakan kisah-kisah Nabi dan Sahabat pada anak-anaknya?
Keempat, Sebagai Tambahan Boleh Pilih Buku Netral tapi Tetap Sesuai Akhlaq Islami
Ingat, seperti yang disabdakan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, bahwa ilmu dan hikmah sebenarnya milik setiap muslim, maka cari dan ambillah dimanapun kita menemukannya. Mengingat buku-buku islami masih jauh lebih sedikit dibanding buku-buku umum, kita bisa saja memanfaatkan buku-buku umum yang bermanfaat untuk mengajarkan akhlaq islami seperti motivasi tinggi, pantang menyerah dan lainnya. Asal syaratnya ya itu tadi: tidak menyalahi aqidah.
Menurut saya, bila anak telah mengetahui kisah Rasulullah dan para sahabat, bisa saja anak diperkenalkan dengan tokoh-tokoh besar dunia seperti Thomas Alva Edison, Napoleon Bonaparte, dan lainnya itu. Terdapat banyak sekali hikmah dalam kehidupan mereka. Untuk anak-anak usia dini, bisa saja disampaikan kisah-kisah dongeng binatang yang bagus asalkan tetap tidak menyalahi akhlaq dan terutama aqidah kita.
CARA BERCERITA
Baik Ayah dan Bunda, bagaimana cara bercerita yang baik? Ada tiga tips sederhana (tapi pelaksanaannya pasti tidak sesederhana itu):
1. Lakukan Rutin
Segala sesuatu akan terasa ringan bila telah rutin dilakukan. Masalahnya adalah bagaimana membentuk rutinitas sedari awal. Ada teori yang mengatakan agar sesuatu dilakukan terus-menerus selama 21 hari agar terbentuklah kebiasaan. Bila telah terbiasa, maka rutinitas menjadi tanpa beban.
Bagi saya, kuncinya adalah menikmati, Ayah dan Bunda. Bila Anda menikmati story time bersama anak-anak, melakukannya setiap hari bukanlah menjadi hal yang sulit.
Satu hal yang terasa berat dalam membentuk kebiasaan adalah meluangkan waktu. Di tengah kesibukan, bisakah kita meluangkan waktu buat bercerita? Namun sekali lagi, bila kita menikmatinya, insyaa Allah kita akan sanggup.
Bagi anak-anak yang sudah bisa membaca mandiri, ajak mereka memilih buku kesukaannya. Usahakan agar kita juga ikut membaca sehingga bisa berdiskusi di setiap ada kesempatan.
2. Lakukan di Waktu yang Tepat
Membaca cerita akan efektif bila dilakukan dalam suasana rileks. Anak maupun orangtua harus merasakannya bersama. Bila salah satu merasa terpaksa, hasilnya tidak bisa maksimal. Itulah sebabnya seluruh dunia sepakat bahwa waktu bercerita terbaik adalah di saat menjelang tidur.
Selain menjelang tidur, dimana ada waktu santai juga bisa kita manfaatkan untuk bercerita. Bila dilakukan di luar rumah, bercerita akan lebih terasa ringan bila kita melakukannya tanpa buku.
Maksudnya, orangtua sudah membaca dan mengerti garis besar cerita lalu mengisahkannya langsung dengan gaya sendiri.
Bagi anak-anak yang berada di usia menjelang remaja, kita bisa mengangkat suatu peristiwa dan mengaitkannya dengan cerita yang kita baca. Misalnya saat melihat atau mendengar berita tentang orang yang senang hidup bermewah-mewah, kita bisa mengangkat kisah Sahabat Nabi yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari. Untuk anak-anak seusia ini, memang lebih efektif bila kita bisa bercerita tanpa buku.
3. Peragakan Ekspresi
Ayah dan Bunda, apakah Anda pernah bercita-cita atau sekadar membayangkan menjadi seorang aktor atau aktris? Nah, saat Anda bercerita, jadilah aktor dan aktris. Bila Anda bersedia melakukannya, story time akan menjadi sangat berkualitas dan menyenangkan.
Kuncinya, Ayah dan Bunda, hidupkan lagi semangat anak-anak dalam diri Anda! Ingatlah, dulu Anda pernah jadi anak-anak. Bayangkan betapa serunya Ayah dan Bunda yang masih kecil bertemu dengan anak-anak mereka di usia yang sama dan bertualang bareng dalam sebuah kisah. Keren banget kaaan?
KESIMPULAN
Ayah dan Bunda, kesimpulan kita sederhana saja: bercerita tentang Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para Sahabatnya ternyata sangat penting dalam menginternalisasi karakter islami dalam diri Anak-anak.
Pertanyaannya kembali kepada Anda, Ayah dan Bunda. Seberapa dalam Anda menyadarinya sehingga tergerak untuk memanfaatkan metoda bercerita ini semaksimal mungkin?
Sampai jumpa lagi dalam kesempatan selanjutnya. Insyaa Allah.
Mohon maaf atas segala kekurangan dan khilaf nya, Terimakasih sudah berkenan menyimak, semoga ada pelajaran yg dapat di praktekan
Saya, Eka Wardhana dan tim Rumah Pensil Publisher mohon pamit. Baarokallooh fii kum.
Subhanaka allahumma wabihamdika asyhadu alaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik.
Salam Smart Parents!






